5. ANALISIS KRITIS PADA SISTEM EKONOMI KONVENSIONAL (Sistem Ekonomi Kapitalis)

 5. ANALISIS KRITIS PADA SISTEM EKONOMI KONVENSIONAL    


A. Pilar-pilar Sistem Ekonomi Kapitalis

1. Hak milik Swasta (Private Property) Lembaga ini merupakan elemen pokok dari kapitalisme, Ia menjamin bahwa setiap orang mempunyai hak untuk mencapai barang-barang ekonomi dan sumber-sumber daya melalui cara yang legal, mengadakan perjanjian-perjanjian sehubungan dengan penggunaannya dan apabaila perlu menjualnya. 

2. Dibina oleh tangan yang tak terlihat (The Invisibel Hand) Prinsip tersebut menyatakan bahwa untuk mencapai hal yang terbaik untuk masyarakat. Setiap individu dalam sebuah masyarakat kapitalistik dimotivasi oleh kekuatan-kekuatan ekonomi sehingga ia akan bertindak sedemikian rupa untuk mencapai kepuasan terbesar dengan pengorbanan atau biaya yang sekecil-kecilnya. 

3. Individualisme ekonomi Laissez- Faire Pernyataan ini menjadi kata kunci kapitalisme. Dalam arti bahwa tiadanya intervensi pemerintah akan menyebabkan timbulnya individualism ekonomi dan kebebasan ekonomi.Intervensi pemerintah dibatasi pada aktivitas-aktivitas tertentu. 

4. Persaingan dan pasar-pasar bebas (free market competition). Persaingan terjadi antara penjual barang-barang yang serupa untuk menarik pembeli; antara pembeli untuk mencapai barang-barang yang mereka inginkan; antara pekerja untuk memperoleh pekerjaan, antara pihak majikan untuk memperoleh pekerja, antara pembeli dan penjual sumber-sumber daya untuk mencapai syarat yang sebaik-baiknya.

B. Kritik Terhadap Sistem Ekonomi Kapitalis

 1. Teori dependensia oleh Andre Gunder Frank di Amerika latin. Bahwa dunia didominasi oleh suatu perekonomian tunggal sedemikian rupa, sehingga semua bangsa diintregrasikan dalam lingkungan produksi kapitalis global. Mereka dihubungkan dengan serangkaian rantai metropolis satelit, yang menarik surplus yang dihasilkan pada setiap tingkat produksi ke pusat. Akibatnya adalah periferi atau pinggiran (satelit-satelit) menjadi miskin, sedangkan pusat berakumulasi dan tumbuh. Dengan demikian, sistem itu tidak akan mampu membuat cerita gemilang eropa barat dan AS lahir kembali di Negara-negara berkembang. Diungkap Frank. Mengakibatkan Indonesia terintegrasi ke dalam sistem perdagangan finansial dan investasi global.

 Arus kapital asing yang masuk ke Indonesia layaknya air bah, yang karena itu Indonesia pun mengalami pertumbuhan ekonomi tinggi. Investasi yang membanjir itu ternyata tidak banyak membantu sektor produktif, bahkan banyak yang hanya diparkir dalam bentuk rupiah. Praktik itu hanya menguntungkan pemilik modal dan hanya menghasilkan “buble economy” pertumbuhan ekonomi lebih banyak digerakkan oleh meningkatnya konsumtifisme masyarakat menengah ke atas, pesatnya pertumbuhan sektor-sektor “non-traded good” seperti bisnis property dan komersialisasi sektor public (chaniago, 2001:xxi-xxix, 72).

2. Upaya Negara-negara industri/kapitalis di dunia dalam menangani dampak industri pada pemanasan global masih lemah. Mereka beranggapan bahwa cara ini sebagai cara terbaik dan tercepat menangani pemanasan global. Padahal, menurut sejumlah ahli kontribusi kerusakan hutan pada emisi global hanya 15% saja. Selebihnya adalah akibat penggunaan bahan bakar fosil industri. Paradigma ekonomi kapitalisme selama ini tidak integralistik (reduksionis), dimana bumi (sumber daya alam) adalah objek, seperti kritik yang disampaikan fisikawan Pritjof Capra. Yang menekannkan pembangunan dengan memerhatikan keharmonisan dengan alam. Karena paradigma yang tidak intergralistik itu, eksploitasi sumber daya alam pun terjadi di mana-mana. Modus operasinya adalah lewat industrialisasi, pertambangan, dan pembangunan dengan sokongan kapitalisme global. 

3. Joseph E. stiglitz (2006:vi, 178-179, 274-275), selama ini kapitalisme di Amerika Serikat (AS) dan juga negara lainnya dalam tahun 1990-an, terutama dalam kasus praktik perbankan, berjalan di atas informasi asimetris, yaitu sebuah kondisi pasar dimana yang satu memiliki informasi lebih ketimbang yang lainnya. Perbankan investasi mestinya memberikan informasi yang mendorong perbaikan kualitas alokasi sumber daya. Konsep invisible hand Adam Smith harus bisa berjalan di atas informasi sempurna. Secara inhern mengandung ketimpangan dan menyuburkan praktik kolusi dan korupsi. Stiglitz, AS melakukan standar ganda dalam praktik kapitalisme globalnya demi keuntungan negaranya dengan mengorbankan negara-negara berkembang.

AS mendesak negara lain agar membuka lebar pasar mereka pada bidang-bidang yang menjadi keunggulannya, seperti jasa keuangannya, AS berhasil tidak memasukkan jasa konstruksi dan maritim yang menjadi keunggulan negara-negara berkembang. Ekonomi global, bankbank lokal tertindas oleh bank-bank internasional dan dananya bermuara pada perusahaan internasional, bukan usaha kecil menengah milik lokal. AS juga menerapkan standar ganda lainnya dalam praktik kapitalisme globalnya dalam sektor pertanian.

4. Thomas Piketty, kapitalisme sebagai sistem ekonomi yang menguasai dunia telah membuat terjadinya ketimpangan ekonomi di dunia modern sampai terjadinya PD II. Sejak PD II akhir dasawara tahun 1970-an, ekonomi kapitalisme bercorak kesetaraan, berwajah manusiawi. “laba bagi semua, bukan semua dikorbankan demi laba”. Aneka jaminan sosial yang pesat pun terjadi antara tahun 1945-1975. Tahun 1980-an mengubur wajah manusia kapitalisme. Abad ke-19 dan sebelumnya, kekayaan di dunia bukan hanya terpusat di tangan 20-10% penduduk terkaya, melainkan 1 dan 0,1, bahkan 0,01 dan 0,001% terkaya. Kapitalisme yang didominasi modal/harta orang tua, diperoleh melalui rente, kolusi, dan perlipat gandaan tanpa jerih payah, suatu bentuk kapitalisme yang mengolok-olok kesetaraan, meritokrasi, dan membusukkan demokrasi lewat penjarahan aset publik oleh kaum oligarki dan benalu masyarakat. “makin tinggi imbalan modal dibanding pertumbuhan ekonomi, makin tinggi ketimpangan”. Ia menyarankan agar pajak progresif atas modal di dunia harus di jalankan: 0,1% bagi modal di bawah 200.000 euro hingga 2% untuk modal di atas 5 juta euro. 

C. Pandangan Islam Terhadap Sistem Ekonomi Kapitalis

    Adapun pandangan Islam terhadap sistem ekonomi kapitalisme terkait perangkat-perangkat yang digunakan dalam melakukan kegiatan perekonomian. Salah satunya adalah perbankan. Di mana pencairan paket stimulus ekonomi akan dilakukan melalui perbankan agar dapat mendorong peningkatan di sektor riil melalui kredit perbankan. Namun, pembiayaan melalui kredit ini akan menciptakan bunga yang dapat menimbulkan inflasi, yakni naiknya harga barang dan jasa secara terus-menerus yang berakibat kepada semakin melemahnya daya beli masyarakat. Sedangkan dalam Islam, perbankan yang berbasis bunga tidak diperlukan. Sebab, bunga (riba) secara tegas telah diharamkan dalam Islam (QS. Al-Baqarah [2]: 275-279).

    Sebagai gantinya, Islam memberikan solusi kepada sistem ekonomi kapitalisme terkait masalah pembiayaan. Yakni, segala bentuk pembiayaan akan dilakukan secara langsung oleh para investor kepada para individu yang membutuhkan modal, melalui mekanisme kerja sama bisnis (syirkah) yang Islami (tanpa bunga). Sehingga, inflasi tidak akan terjadi sebagaimana dalam sistem ekonomi kapitalisme yang muncul akibat adanya bunga dalam sistem perbankan.

    Maka dari itu, sistem ekonomi kapitalisme haruslah ditinggalkan dan diganti dengan sistem ekonomi Islam. Karena, dengan adanya bunga dalam sistem pembiayaan tidak akan dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Hal ini karena dengan adanya bunga dalam maka hanya satu pihak saja yang akan memperoleh keuntungan dan pihak lain akan rugi. Dan sebagai umat muslim, kita tidak hanya membutuhkan keuntungan (kesejahteraan dunia) semata, tetapi membutuhkan kesejahteraan dunia akhirat (falah). Dan untuk memperoleh hal tersebut (falah), kita harus mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya termasuk dalam kegiatan ekonomi. Kita harus menjalankan kegiatan ekonomi sesuai apa yang telah disyariatkan dalam Islam (Al-Qur'an dan Al-Hadist).



Referensi :

https://b-pikiran.cekkembali.com/sistem-ekonomi-kapitalis/

https://www.kompasiana.com/selvinurrahman3224/5b14bf33f133441fec2c80d5/sistem-ekonomi-kapitalisme-dalam-perspektif-islam


Comments

Popular posts from this blog

1. PARADIGMA EKONOMI ISLAM