9. Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Islam

     Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Islam


    Hubungan Manusia dengan Ekonomi 

    Sebagai makhluk ekonomi, manusia memiliki akal dan pikiran untuk menciptakan barang-barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan. Sebagai makhluk ekonomi, manusia juga tidak dapat hidup tanpa melakukan kegiatan ekonomi, baik itu berupa produksi, konsumsi, atau distribusi. Untuk memenuhi semua kebutuhan manusia butuh uang, maka harus bekerja. Dengan bekerja dan mendapatkan uang, uang itu kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhannya.

    Dalam perekonomian modern, ada empat sektor pelaku ekonomi, yaitu rumah tangga, perusahaan, pemerintah, dan masyarakat luar negeri. Seiring perkembangan peradaban manusia, kondisi ekonomi dan kebutuhan / keinginan manusia juga ikut berkembang. Akan tetapi, untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan tersebut, adakalanya manusia dihadapkan pada berbagai masalah di mana salah satunya yang paling mendasar adalah kelangkaan (scarcity). 

    Kelangkaan terjadi ketika adanya keterbatasan akan barang yang dibutuhkan untuk hidup / sumber daya yang diperlukan untuk menghasilkan sesuatu. Kelangkaan yang dimaksud dapat terjadi karena :

a. Terbatas, dalam artian jumlah sumber daya yang tersedia lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah kebutuhan manusia.

b. Terbatas, dalam artian bahwa untuk memperolehnya, manusia harus melakukan pengorbanan.


    Dari Homo Economicus ke Homo Ethicus

    Salah satu asumsi yang sangat penting dalam ekonomi klasik dan neo-klasik adalah konsep homo economicus, atau disebut juga dengan economic man. Istilah homo economicus sendiri diartikan sebagai seperangkat sifat dan perilaku tertentu yang dikaitkan dengan tindakan seseorang dalam berbagai kegiatan ekonomi. Konsep homo economicus dalam ekonomi konvensional merupakan simplikasi model perilaku ekonomi manusia yang mengasumsikan dan mengeneralisasi semua orang sebagai individu ekonomi yang memiliki sifat-sifat : perfect self-interest (kepentingan pribadi semata-mata), perfect rationality (memiliki rasionalitas yang sempurna), dan perfect information (memiliki segala informasi). Asumsi-asumsi di atas menciptakan manusia sebagai pelaku ekonomi yang berlaku secara independen, tidak kooperatif, individualis, dan terisolasi dari komunitas atau masyarakat.

    Namun, teori ini sering mengabaikan fakta bahwa homo economicus bukanlah manusia, dalam artian mempunyai daging dan darah, tetapi merupakan suatu gagasan konseptual. Bukti empiris menunjukkan bahwa perilaku yang diperkirakan oleh model-model standar tersebut sering tidak sesuai dengan kenyataan. Berbagai faktor seperti keadilan, kepercayaan, dan nilai moral juga berperan dalam pengambilan keputusan dari pelaku ekonomi yang sesungguhnya. Selain itu, pengetahuan yang diperoleh dari pengamatan terhadap berbagai negosiasi dan budaya serta nilai-nilai yang dianut juga berperan dalam membentuk pola perilaku individu.

    Intinya Perilaku ekonomi dalam perspektif Islam berkaitan dengan konsep akhlak sebagai fondasi dalam menentukan baik buruknya suatu tindakan. Dengan pemikiran seperti itu, konsep homo economicus, yang merupakan simplikasi model perilaku ekonomi manusia, dianggap tidak dapat mengakomodir realitas yang ada. Penyempurnaan dari itu kemudian melahirkan model ekonomi yang berbasis perilaku (behavioral models) yang disebut dengan homo ethicus.

    Konsumsi dan Produksi dalam Perspektif Islam

    Konsumsi dalam Islam Secara umum konsumsi didefinisikan dengan penggunaan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dalam ekonomi islam konsumsi juga memiliki pengertian yang sama, tapi memiliki perbedaan dalam setiap yang melingkupinya. Perbedaan yang mendasar dengan konsumsi ekonomi konvensional adalah tujuan pencapaian dari konsumsi itu sendiri, cara pencapaiannya harus memenuhi kaidah pedoman syariah islamiyyah. Dalam ekonomi Islam, kepuasan dikenal sebagai mashlahah dalam artian terpenuhinya kebutuhan baik yang bersifat fisik dan non-fisik (spiritual). Oleh karenanya, konsumsi dipandang sebagai upaya pemenuhan kebutuhan akan barang/jasa yang memberikan kebaikan dunia dan akhirat bagi konsumen itu sendiri (mashlahah).

    Islam menganjurkan manusia untuk menganut pola konsumsi moderat (di tengah-tengah), artinya manusia tidak boleh berlebih-lebihan (israf), tetapi juga tidak boleh terlalu apa adanya. Menurut al-Ghazali, pola hidup yang sangat sederhana akan mengganggu proses ibadah manusia kepada Allah SWT, sedangkan hidup yang berlebih-lebihan akan menyebabkan kemubaziran. Banyak larangan bagi konsumen di antaranya israf/berlebih-lebihan dan tabdzir / mubazir. Salah satu larangan Allah SWT untuk hidup berlebihlebih terdapat dalam Q.S. al-Maidah : 77

“Katakanlah (Muhammad), Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang telah tersesat dahulu dan (telah) menyesatkan banyak (manusia), dan mereka sendiri tersesat dari jalan yang lurus.”


    Produksi dalam Islam

    Produksi dalam perspektif ekonomi Islam adalah terkait dengan manusia dan eksistensinya dalam aktivitas ekonomi, produksi merupakan kegiatan menciptakan kekayaan dengan pemanfaatan sumber daya alam oleh manusia. Berproduksi lazim diartikan menciptakan nilai barang atau menambah nilai terhadap sesuatu produk, barang dan jasa yang diproduksi itu hanya yang dibolehkan dan menguntungkan (yakni halal dan baik). Produksi tidak berarti hanya menciptakan secara fisik sesuatu yang tidak ada, melainkan yang dapat dilakukan oleh manusia adalah membuat barang-barang menjadi berguna yang dihasilkan dari beberapa aktivitas produksi, karena tidak ada seorang pun yang dapat menciptakan benda yang benar-benar baru. Membuat suatu barang menjadi berguna berarti memproduksi suatu barang yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta memiliki daya jual yang yang tinggi. 

    Kemuliaan harkat kemanusiaan harus mendapat perhatian besar dan utama dalam keseluruhan aktifitas produksi, karena segala aktivitas yang bertentangan dengan pemuliaan harkat kemanusiaan bertentangan dengan ajaran Islam. 

    Oleh karenanya, kegiatan produksi dalam perspektif ekonomi Islam terikat dengan manusia dan eksistensinya dalam aktivitas ekonomi. Ada beberapa persyaratan harus dipenuhi produksi dalam Islam, yaitu : 

1. Dibenarkan dalam syariat Islam, yang sejalan dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Alquran dan hadis, ijmak, dan qiyas;

2. Tidak mengandung unsur-unsur yang dapat membahayakan orang lain;

3. Cakupan manfaat produksi dalam ekonomi Islam meliputi dunia dan akhirat. 

 Dapat disimpulakan bahwa, tujuan utama produksi dalam ekonomi konvensional adalah memaksimalkan keuntungan. Produksi dalam perspektif Islam tidak hanya berorientasi pada maksimalisasi keuntungan, meskipun juga tidak dilarang, tetapi lebih kepada menyeimbangkan antara manfaat individu dan masyarakat.


Comments

Popular posts from this blog

1. PARADIGMA EKONOMI ISLAM